Mahasiswa KPI Al-Zaytun Tuntaskan PPL di Radio Elgangga 100.3 FM Bekasi, Tempa Kemampuan Jurnalisme Penyiaran Secara Langsung

 

Poster Webinar "On Air and Beyond: Perjalanan PPL di Radio Elgangga"

Bekasi, 22 Agustus 2025 — Empat mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) angkatan 2020 Institut Agama Islam Al-Zaytun Indonesia berhasil menuntaskan Program Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) di Radio Elgangga 100.3 FM Bekasi. Kegiatan yang berlangsung sejak Senin, 21 Juli 2025 hingga Jumat, 22 Agustus 2025 ini diakhiri dengan gelaran Webinar Hasil PPL yang diselenggarakan secara daring bertema "On Air and Beyond: Perjalanan PPL di Radio Elgangga". Para mahasiswa tersebut adalah Wulida Itsnaini, Mutmainah, Rahma Aulia, dan Syifa Hasna, yang selama satu bulan penuh terjun langsung ke lingkungan kerja media penyiaran di Kota Bekasi, Jawa Barat. Seminar hasil ini menjadi forum pertanggungjawaban akademik atas seluruh capaian, pengalaman, dan kompetensi yang diperoleh selama menjalani PPL.

Webinar dibuka dengan sambutan dari Dekan Fakultas yang diwakili oleh Ustadz Dr. Muhammad Nurkholish Abdurrazaq S.Si., M.T. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada keempat mahasiswa yang telah berhasil menyelesaikan program tersebut. Beliau menekankan bahwa pengalaman PPL bukan sekadar kewajiban akademik, melainkan wahana nyata untuk membentuk kompetensi yang relevan dengan dunia kerja. "PPL dan magang adalah kesempatan untuk belajar di masyarakat dan meningkatkan kualitas diri," ujarnya. Ustadz Kholish turut mendorong mahasiswa angkatan berikutnya untuk memperluas cakupan lokasi PPL hingga ke level internasional, termasuk kemungkinan penempatan di lingkungan kedutaan besar.

Radio Elgangga 100.3 FM yang berlokasi di Jalan Surma Marzuki Nomor 30, Bekasi Selatan, merupakan stasiun radio lokal yang telah berkembang pesat dengan mengintegrasikan teknologi digital ke dalam sistem siarannya. Stasiun ini mengemban misi memberikan informasi terkini yang relevan, mengedukasi pendengar, menjadi platform diskusi publik, menyediakan hiburan melalui musik dan program radio, serta menjaga kualitas siaran berdasarkan nilai-nilai yang diyakini. Keempat mahasiswa KPI ditempatkan langsung di lingkungan produksi dan penyiaran radio tersebut, mengerjakan berbagai tugas operasional yang mencerminkan kerja nyata seorang praktisi media.

Gambar 1. Penyampaian Materi oleh Kak Mutmainah, Kak Wulida, Kak Rahma, dan Kak Hasna

Selama sebulan pelaksanaan, para mahasiswa terlibat dalam tiga ranah utama kegiatan: mengerjakan tugas yang diberikan pihak radio, mempelajari hal-hal baru di bidang penyiaran, serta membangun relasi profesional. Tugas harian yang diemban meliputi pembuatan poster dan flyer event, penyusunan jadwal, pencarian berita terkini di wilayah Bekasi, produksi video promosi, pengambilan dan penyuntingan video program TalkShow untuk diunggah ke kanal YouTube Radio Elgangga, serta pelaksanaan liputan lapangan. Artikel berita daerah Bekasi diterbitkan secara rutin setiap Senin dan Rabu melalui situs web radio, sementara program TalkShow disiarkan langsung setiap hari pukul 16.00 dan rekamannya diunggah ke platform digital.

Sistem kerja tim selama PPL bersifat dinamis dan bergantian sesuai dengan kebutuhan liputan. Kak Wulida menjelaskan bahwa pada pekan pertama, ia berpasangan dengan Kak Mutmainah, pada pekan kedua, Kak Rahma Aulia bertugas bersama rekan dari kampus lain, pada pekan ketiga, giliran Kak Syifa Hasna dan pada pekan terakhir, Kak Wulida kembali ditugaskan bersama Kak Syifa Hasna untuk meliput kawasan pasar. Sementara itu, Kak Mutmainah dan Kak Rahma Aulia difungsikan sebagai editor konten mengingat besarnya jumlah mahasiswa magang dari berbagai perguruan tinggi. Keempat peserta PPL seluruhnya pernah menjalani peran sebagai reporter lapangan, melakukan riset berita, sekaligus menjadi editor.

Tantangan yang dihadapi selama PPL pun tidak kecil. Kak Wulida mengungkapkan bahwa pengalaman yang paling berat baginya adalah liputan lalu lintas. Ia mengaku kesulitan membaca Google Maps, tidak hafal nama-nama jalan di Bekasi, dan harus bangun pagi sekali pada pukul 06.15 demi persiapan siaran. "Tantangan terbesar saya adalah saat liputan lalu lintas. Saya tidak bisa membaca Google Maps, tidak pintar menghafal jalan, dan harus bangun sangat pagi. Saya bahkan sempat menangis karena kesulitan itu," tutur Wulida dengan jujur. Untuk mengatasinya, ia menerapkan strategi menghafal rute melalui Google Maps sehari sebelum hari liputan sambil mempelajari landmark atau penanda geografis di sekitar titik liputan.

Dari sisi kompetensi penyiaran, Ustadz Kholish selaku pembimbing akademik mencermati bahwa meski keempat mahasiswa telah menjalani fungsi reporter dan editor, mereka belum mendapat kesempatan untuk bertugas sebagai penyiar di studio maupun sebagai operator audio. Kak Wulida menyampaikan bahwa mereka hanya sempat menyaksikan cara kerja operator yang bernama Bang Ari, tanpa pernah diberi ruang untuk mencoba secara langsung. Namun demikian, karena suara mereka turut mengudara pada saat liputan di lapangan, secara tidak langsung mereka telah menjalankan salah satu fungsi esensial seorang penyiar.

PPL ini juga membawa refleksi mendalam bagi para pesertanya mengenai arah karier di bidang media. Kak Wulida, misalnya, mengaku bahwa dunia penyiaran bukan bidang yang paling sesuai baginya setelah menjalani pengalaman langsung tersebut. Ia merujuk pada petuah dari salah satu dosen, Ustadz Sudirman Tebba, bahwa kemampuan vokal dan artikulasi menjadi prasyarat utama seorang penyiar. Sebaliknya, Kak Wulida menemukan keunggulannya di bidang penulisan naskah. "Saya lebih cocok di script writing. Saya mampu menulis naskah liputan yang formal maupun semiformal dalam waktu singkat. Mungkin saya jago di script writing, tetapi tidak cocok sebagai penyiar," ucapnya.

Ustadz Kholish memberikan catatan evaluatif yang penting atas pengalaman tersebut. Ia menyoroti kemampuan navigasi sebagai kompetensi yang kerap terabaikan dalam kurikulum, padahal sangat krusial bagi seorang jurnalis lapangan. "Kemampuan navigasi harus dilatih sejak awal, termasuk memahami lokasi, jarak, tempat, dan landmark. Pengalaman Wulida yang menangis karena kesulitan navigasi harus menjadi pelajaran bagi kita semua," tegasnya. Ia secara khusus meminta Himpunan Mahasiswa (HIMMA) untuk memasukkan pelatihan navigasi sebagai bagian dari persiapan mahasiswa sebelum diterjunkan ke lapangan.

Gambar 1. Sesi Dokumentasi Peserta Webinar
 "On Air and Beyond: Perjalanan PPL di Radio Elgangga" 

Webinar berlangsung interaktif dengan sesi tanya jawab yang menghidupkan diskusi. Alya Danti, mahasiswi KPI semester 11, mengajukan dua pertanyaan yang relevan dan tajam. "Apa tantangan terbesar yang kalian hadapi selama PPL dan bagaimana cara mengatasinya? Dan apa rencana kalian ke depan, terutama di dunia penyiaran atau media?" tanya Alya. Pertanyaan tersebut memantik jawaban-jawaban yang jujur dan reflektif dari para peserta PPL, menjadikan forum ini tidak sekadar pelaporan formal, tetapi juga ruang berbagi pengalaman yang autentik.

Webinar Hasil PPL ini menjadi penanda resmi selesainya masa praktik lapangan bagi keempat mahasiswa KPI angkatan 2020 IAI Al-Zaytun Indonesia. Terlepas dari berbagai tantangan yang dihadapi, program ini terbukti menjadi laboratorium nyata yang mengasah kepekaan jurnalistik, kedisiplinan kerja, kemampuan produksi konten, dan kapasitas personal para mahasiswa. Output konkret yang dihasilkan selama PPL mencakup poster dan flyer event, video promosi, video TalkShow yang telah tersunting dan terpublikasi di YouTube, artikel berita daerah Bekasi di situs web radio, serta dokumentasi foto menyeluruh dari seluruh rangkaian kegiatan. Capaian-capaian tersebut menjadi bukti nyata bahwa pengalaman lapangan, dengan segala dinamika dan kesulitannya, adalah bagian yang tak tergantikan dari proses pembentukan seorang praktisi komunikasi yang kompeten.



Penulis: Zidan

0 Komentar