Webinar Broadcasting di Era Digital: Radio Tak Pernah Mati, Hanya Bertransformasi

 


Institut Agama Islam Az-Zaytun Indonesia - Pada hari sabtu, 4 April 2026 Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) menggelar webinar bertajuk "Broadcasting di Era Digital" yang menghadirkan Ustadz Imang Maulana, S.Sos.I., M.M. sebagai pemateri utama. Serta turut hadir Kaprodi Ustadz Supriadi Maud, S.I.Kom., M.Sos. Kemudian, yang bertindak sebagai Master of Ceremony (MC) Aini Lutfiyah yang merupakan Mahasiswi Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam. 

Kegiatan Webinar dimulai sekitar pukul 10.00- 12.00 WIB diawali dengan pembukaan. Pembukaan berlangsung sekitar 10 Menit dengan dilanjutkan dengan acara inti yakni pemberian materi  “Broadcasting di Era Digital" yang disampaikan oleh Ustadz Imang Maulana, S.Sos.I., M.M. 

Kegiatan ini dibuka oleh Kaprodi, Ustadz Supriadi Maud, S.I.Kom., M.Sos., yang menyampaikan harapannya agar para mahasiswa KPI mampu beradaptasi di era media digital, memproduksi konten yang bermanfaat, serta terus mengembangkan skill komunikasi mereka. 

Dalam pemaparannya, Ustadz Imang Maulana membawa peserta menelusuri perjalanan panjang radio — dari era kejayaannya pada abad ke-19 hingga ke-20, saat radio menjadi kekuatan informasi utama, bahkan turut dikembangkan oleh negara-negara Islam, hingga kini memasuki babak baru sebagai radio digital.

Gambar 1. Pemaparan Materi Webinar oleh Ustadz Imang Maulana S.Sos.I., M.M.

Memasuki awal abad ke-20, teknologi radio analog mulai bertransisi ke sistem digital dengan hadirnya tiga teknologi utama. Pertama, DAB (Digital Audio Broadcasting), yang menawarkan kualitas audio tinggi lengkap dengan fitur teks informasi di layar, meski membutuhkan infrastruktur yang lebih kompleks. Kedua, DRM (Digital Radio Mondiale), yang mampu menghadirkan kualitas audio setara FM pada frekuensi AM atau gelombang pendek, menjadikannya ideal untuk siaran berjangkauan luas hingga internasional. Ketiga, HD Radio (Hybrid Digital Radio), yang memungkinkan kompatibilitas antara radio lama dan baru, bahkan memberi kesempatan satu stasiun menyiarkan beberapa saluran sekaligus dalam satu frekuensi.

Lebih dari sekadar teknologi, Ustadz Imang Maulana menekankan pentingnya memanfaatkan radio sebagai media dakwah, merujuk pada Surah Ali Imran ayat 104. Ia mendorong mahasiswa KPI agar tampil lebih religius dalam siaran dan menjadikan nilai agama sebagai pegangan utama.

Penyiar umum tidak ada religinya. Sebagai prodi KPI harus lebih religius ketika siaran radio agar ada pesan dakwah — agama sebagai pegangan utama.

Dari sisi praktik, Ustadz Imang Maulana menjabarkan formula siaran radio digital yang efektif: dimulai dari intro yang kuat dan berkesan, dilanjutkan dengan pemutaran lagu populer untuk menjaga antusiasme pendengar, hingga segmen talkshow di mana suara penyiar harus aktif selama 30 menit penuh. Siaran radio pun kini dapat direkam dan dikonversi menjadi podcast menggunakan perangkat lunak yang mendukung, lalu didistribusikan melalui platform seperti Spotify untuk menjangkau audiens yang lebih luas.

"Teknologi radio digital menawarkan pilihan yang berbeda, memperluas jangkauan konten digital. Kita bisa merasakan radio digital lebih mudah dan praktis melalui podcast yang ada pada era saat ini." Yang disaampaikan oleh Ustadz Imang Maulana, S.Sos.I., M.M. 

Webinar ditutup dengan sebuah kesimpulan yang tegas: radio tidak pernah mati. Teknologi digital justru memperluas jangkauannya, dan kehadiran podcast menjadi bukti nyata bahwa semangat radio tetap hidup dan relevan hingga hari ini.

Gambar 2. Sesi Dokumentasi Webinar



Penulis: Nurul Huda

0 Komentar

Terbaru